Kemarin hari Minggu. Mendung. Seperti minggu-minggu yang lalu aku dan dia pasti menghabiskan hari minggu kami dengan hang out bersama. Indah rasanya. Dia Tama. Pacarku. Sudah hampir tiga tahun ku lewati hari bersamanya. Dirumah, disekolah dimanapun hampir selalu bersama. Sungguh hari Minggu yang indah. Tawa bersama, bergurau dalam canda dihiasi rintikan hujan yang menerpa payung biruku.
Pagi ini mendung. Hari Senin. Seperti biasa, aku datang paling awal dari teman-teman yang lain. Menunggu Tama yang biasanya datang pukul 06.15. Namun hari ini, sudah hampir setengah tujuh dia belum menampakkan diri. Bel tanda dimulainya pelajaran sudah berdering. Hatiku semakin kalut tak karuan. Ku lewati setiap jam disekolah dengan perasaan gundah. Tak tenang. Gundah, kalut, khawatir dan galau. Perasaan itu menghantui pikiranku hari ini. Sampai bel pulang sekolah terdengar, Tama tak juga menampakkan diri. Aku menangis.
Rintikan hujan dan sepoi angin menghiasi perjalananku menuju rumah Tama. Trotoar yang biasanya ramai dipenuhi pejalan kaki, namun hari ini sepi. Mungkin orang-orang takut dengan hujan. Namun bagiku, hujan merupakan kenangan. Aku membawa payung biruku, namun tak ku pakai karena aku berharap hujan bisa menghapus rasa gundahku. Hampir satu jam aku berjalan di bawah rintikan hujan yang semakin deras ku rasakan. Aku sampai di depan rumah Tama.
Suasana hening seketika, saat aku masuk dengan basah kuyup. "Ada apa ini? Mana Tama?" tanyaku dalam hati. Tak terasa aku menangis. "Tama sudah tenang disana, Eni", kata sesosok wanita paruh baya yang ternyata adalah ibu Tama. Aku mengetahui maksud dari kata itu. Tama meninggal. Aku membeku dalam bisu, terpaku dalam keheningan jiwaku.
Hujan telah reda. Saatnya menuju rumah baru Tama. Kuburan. Sepanjang perjalanan menuju rumah baru Tama aku mencoba ikhlas. Namun tak bisa. Taburan bunga dan tanah berwarna coklat kemerahan menyelimuti Tama. Batu nisan bertuliskan "Tama Andrean" berdiri tegak berwarna putih. Payung biruku, aku letakkan diatas gundukan tanah itu. "Biar Tama nggak keujanan" ucapku lirih.
Mencoba merelakanmu, Tama. Ku harap payung biruku bisa melindungimu dari hujan meski sekarang sudah tak ada lagi yang menjagaku. Do'aku selalu untukmu, Tama.
0 komentar:
Posting Komentar