Rabu, 26 Juni 2013

Mimpi ini Nyata Bersamamu

            Ddddeeeerrr! Gubrak! Suara gemuruh itu datang dari balik pintu bercat putih yang lumayan mengkilat. Tiba-tiba terdengar suara memanggil namaku. “Nirmalla bangun! Katanya mau jemput Nirma? Gimana sih, jam segini malah belum bangun?”. Bentak Kak Reza dari balik pintu kamarku dengan muka garangnya. “Huff… iya Kak, aku udah bangun kok. Udah sana buruan pergi”, jawabku seenaknya dengan mata masih terpejam. Selanjutnya, ku langkahkan kaki menuju jendela besar tepat didepan tempat tidurku. Embun segar membasahi kaca bening itu. Terlihat indah ditemani suara kicauan burung yang sedang melantunkan tembang bahagia. Rasanya burung itu mengerti perasaanku saat ini. Hari ini aku bahagia, kurasa sebentar lagi aku akan bisa mewujudkan segala mimpi-mimpiku bersamamu, Nirma. Sahabat kecilku dulu, yang menemaniku dalam melukiskan mimpi indah itu. Ku ajarkan padanya mimpi-mimpi itu, dan ternyata Nirma menikmatinya hingga kini. Dan hari ini, aku akan bertemu dengannya, setelah hampir enam tahun kami berpisah. Aku di Jogja dan ia di Bali. Kami sama-sama mengejar mimpi, namun kami masih punya satu misi besar dalam benak kami masing-masing.
            Pagi ini bandara Adisucipto terlihat masih lengang. Namun juga tidak terlalu sepi. Aku membawa papan nama berukuran 10x20 cm bertuliskan “NIRMA”. Takutnya dia lupa pada wajahku. Satu setengah jam aku menantinya, tak sia-sia memang. Setelah bertemu dalam suasana kerinduan, kami pulang membawa banyak cerita terpendam. Sepanjang perjalanan menuju rumah, kami hanyut dalam cerita tak berujung. “Sudah sampai!” kataku saat dia bercerita tentang kuliahnya di Pulau Dewata yang tiba-tiba aku potong. Setelah menurunkan kopernya, aku lalu menunjukkan kamarnya. Tepat disebelah kamar mungilku. Dia datang ke Jogja bukan untuk liburan, melainkan untuk mewujudkan mimpi-mimpi kami.
***
            Dulu, semasa kami masih menyandang predikat anak ingusan, dia nyaris tak percaya dengan mimpi. Tapi aku tak menyerah begitu saja untuk membuatnya percaya bahwa mimpi itu bisa menjadi kenyataan. Aku tak ingin mewujudkan mimpiku sendiri, apalagi mimpiku dan mimpinya nyaris sama. Aku bermimpi menjadi seorang pujangga  besar, ternama dan dikenal banyak orang. Aku ingin semua tulisanku ada disetiap toko buku. Dan mimpinya, juga tak jauh berbeda denganku. Dia ingin perpustakaan yang didalamnya terdapat puluhan ribu buku karyanya sendiri. Tapi dia tak seegois itu. Dia masih mau memberiku sedikit ruang dalam perpustakaannya. Dan menempatkan buku-buku kami di deretan paling depan dari semua buku yang ada. Itulah segelintir mimpi kami saat kami belum mengerti cara mengenggam dunia. Waktu yang membawa kami dalam dunia yang sesungguhnya. Dalam dunia yang nyata. Bukan hanya angan-angan belaka, namun harus berani mewujudkannya.
***
Sekarang, kami telah bermetamorfosa. Dari ulat yang menggelikan menjadi kupu-kupu elok nan rupawan. Kami telah mengerti medan yang sesungguhnya. Aku telah berulang kali mengirimkan karya-karya terbaikku ke berbagai penerbit ternama. Namun berulang kali pula hasilnya nihil. Nol. Ku ceritakan seluruh perjuanganku pada Nirma. “Rasanya, ingin kubakar saja semua tulisan murahan ini!” gertakku pada diri sendiri di depan Nirma. Hatiku berkecambuk, aku merasa tak pantas lagi bermimpi menjadi pujangga besar. Aku gagal. Benar-benar gagal. Tuhan, hapuskan semua mimpi ini, bangunkan aku dari mimpi buruk ini. Sore ini hujan, dan aku pun juga berharap hujan akan menghapus mimpi ini.Nirma, sahabatku, masih mengerti perasaanku yang gelisah ini. Dengan kesabarannya dia menuntunku untuk tetap berada pada jalur kebijakan. “Sudahlah Nir, mungkin belum saatnya. Aku percaya suatu saat nanti tulisanmu pasti ada disetiap toko buku dan akan ada di perpustakaanku.”
“Aku muak dengan semua ini, aku tak percaya lagi pada mimpi. Semua itu bohong! Mimpi hanya membuatku menjadi pengecut. Ingin ku akhiri semua mimpi murahan ini. Aku benci mimpiku sendiri. Tuhan, aku tak ingin jadi seorang pemimpi lagi. Aku ingin jadi orang yang biasa dan hidup tanpa mimpi!”. Tulisku pada sebuah buku persegi panjang berwarna cokelat yang selalu menemaniku saat aku sedang gundah. Sejujurnya, aku iri terhadap Nirma. Dia berhasil mendirikan perpustakaan impiannya, meski ada sebagian buku bukan hasil tulisannya. Ingin sekali aku memakinya, karena dia telah mendahului mimpi kami. Dulu, kami berjanji akan mewujudkan mimpi ini bersama-sama. Tapi takdir berkata lain, dia mendapat kesempatan itu terlebih dahulu, dan ia mengkhianatiku! Sahabat macam apa dia, yang tega mengkhianati sahabatnya sendiri?.  Aku marah pada Nirma. Aku benci padanya.
***
Pagi ini, aku menunjukkan sikap dinginku pada Nirma. Jelas saja aku masih marah. Tapi kenapa Nirma tak menyadarinya juga? Aaarrrgh.. menyebalkan sekali dia. Tanpa aku sadari, ternyata Kak Reza mengetahui bahwa aku sedang ada masalah dengan Nirma. Namun Kak Reza masih diam, bersikap seolah tak tahu apa-apa.
            Siang ini begitu terik sekali, aku malas berada dirumah. Akhirnya, aku putuskan untuk pergi tanpa memberitahu Nirma. Saat aku menutup pintu rumah, ternyata Kak Reza mengetahui kepergianku. Setelah aku masuk ke dalam salah satu taksi, ternyata Kak Reza membuntutiku dengan motor gedenya. Setelah aku menyadarinya, alhasil terjadilah acara kebut-kebutan dijalan raya. Suara motor gede Kak Reza mengelegar di jalanan. Segera saja aku putuskan untuk mengalah. Aku berhenti di dekat halte bus agar aksi kejar-kejaran ini berakhir. “Kamu ada masalah sama Nirma? Kenapa? Pergi kok nggak ngajak-ngajak Nirma? Kasihan lho dia dirumah cuma sama Bi Inah”, pertanyaan Kak Reza segera memenuhi otakku. “Nggak ada apa-apa kok, biasa aja. Biarinlah, dia kan juga bisa pergi sendiri. Nggak harus sama aku terus kan Kak? Udah, mendingan Kakak pergi aja sana, aku lagi pengen sendiri”, jawabku seenaknya.
            Setelah Kak Reza hilang dari pandangan, ku lanjutkan perjalananku ke kafe tempat biasa aku hangout bersama teman-teman lain. Di sisi lain, saat Kak Reza sampai dirumah, dia segera menghampiri Nirma yang tampaknya mulai menyadari perubahan sikapku. “Nirma, maafin Nirmalla ya. Kayaknya, kalian lagi ada masalah ya? Boleh Kakak tahu? Mungkin Kakak bisa bantu”, Kak Reza mulai pembicaraan. Dengan agak gugup, Nirma menjawab pertanyaan Kak Reza “emm, kayaknya iya deh Kak, mungkin dia marah sama aku gara-gara aku udah berhasil mewujudkan impianku. Tapi, apa aku salah Kak?”.
Matahari telah kembali ke peraduannya. Dan aku pun baru saja pulang kerumah. Tetap masih dengan sikap dingin. Tanpa menggubris sapaan Nirma, aku berjalan menaiki anak tangga untuk kembali ke kamarku. Saat sampai di lantai dua, aku lihat dari atas Nirma menangis tersendu-sendu. Namun, tetap saja aku tak merasa bersalah. Dan tetap bersikeras bahwa Nirma yang salah dalam hal ini.
Jam dinding menunjukkan angka 23.33. Hampir tengah malam. Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki berjalan menuju kamarku. Aku takut, ingin sekali aku berteriak. Namun, sebelum aku berteriak, sesosok tubuh berpawakan tinggi memasuki kamarku tanpa mengetok pintu terlebih dahulu. Kak Reza. Setelah mengetahui bahwa itu Kak Reza, aku lalu berpura-pura sudah tidur dengan menutupi seluruh tubuhku dengan selimut yang terasa hangat ini, “Kakak tahu Nir, kamu belum tidur. Kakak mau ngomong sebentar saja, tolong dengarkan Kakak” suara Kak Reza membelah kesunyian malam itu. Aku sudah tahu arah pembicaraan Kak Reza. Tak mau lagi berlarut-larut memendam rasa kecewa ini, akhirnya aku putuskan untuk mendengarkan Kak Reza. “Iya Kak, ada apa? Apa Kakak mau membahas soal aku dan Nirma?” kujawab tanpa menatap mata Kak Reza. Setelah hampir satu jam kami beradu pendapat dengan bukti kami masing-masing, aku mulai luluh dengan kata-kata Kak Reza. Aku merasa bersalah telah menunjukkan sikap dingin pada Nirma.
Pagi ini udara terasa lebih dingin dari biasanya. Mungkin karena diluar sana sedang hujan. Aku melihat Nirma berdiri  termenung di depan jendela dengan tatapan kosong. Aku memberikan segelas teh hangat padanya sebagai awal pembicaraan kami. “Nirma, aku minta maaf”’ kataku dengan wajah menunduk tak berani menatap mata bening itu. “Iya, nggak papa Malla. Aku juga minta maaf telah mengingkari janji kita dulu”, jawab Nirma dengan senyum indahnya. Syukurlah, kami telah saling memaafkan dan meminta maaf. Dengan kata-kata indahnya, dia memberikan ide padaku untuk menuliskan sebuah kisah yang menurutku juga cukup baik untuk dijadikan sebuah bacaan.
***
Malam yang sunyi ini, aku menuliskan karya terbaikku, yang rencananya akan aku kirimkan ke penerbit ternama. Ditemani secangkir kopi buatan Bi Inah, aku mulai menuliskan kisah pilu “Rindu Seorang Anak Manusia Pada Tuhan”. Dengan semangat dan rasa ikhlas yang sudah aku bangun, akhirnya tulisan itu selesai dalam waktu sekitar satu bulan.
Siang yang terik membuat kami ingin menikmati hari ini di dalam rumah sambil meneguk segelas jus jeruk segar. Tiba-tiba saat aku buka e-mail, kudapati pemberitahuan yang mengejutkan. Benar kata Thomas A Edison, “banyak kegagalan dalam hidup ini disebabkan orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah”. Tapi aku tetap menyesal, mengapa aku dulu membuang semua tulisanku? Aaargh, lupakan saja itu masa laluku yang buruk.
Dua bulan kemudian, buku pertamaku terbit. Tidak tebal memang, hanya sekitar 59 halaman, namun aku tetap bersyukur. Akhirnya mimpiku jadi nyata, terimakasih kawan atas doa dan semangat darimu. Aku jadi ingat tentang sebuah film berjudul “Perahu Kertas”. Kata-kata yang sederhana dan ku ingat, mewakilkan perasaanku saat ini.
“Bersama kamu, aku tidak takut lagi jadi pemimpi”. Dan bersama sahabat karibku Nirma, aku tidak takut lagi jadi pemimpi, aku tidak takut lagi mewujudkan impianku, namun menjadi orang yang “mampu” mewujudkan mimpi dan berusaha untuk tidak mudah menyerah.
Terimakasih kawan.



0 komentar:

Posting Komentar

 
Langit Biru Blogger Template by Ipietoon Blogger Template