Kamis, 27 Juni 2013

Pesta Akhir Tahun


          Pagi ini dia bangun pukul 07.30. Memang sengaja. Kenapa? Karena hari ini ada "pesta besar" dalam beberapa bulan terakhir dimasa kelas sepuluhnya. Walaupun beberapa hari kedepan ia juga akan mendapat makan gratis lagi. Namun kali ini berbeda. Hari ini ada pesta makan-makan bersama teman-temannya. Hemm... nyam-nyam. Walaupun menu yang disajikan cukup sederhana, tapi tak menyurutkan semangatnya pagi ini. Setelah selesai merapikan tempat tidurnya ia segera keluar kamar untuk sarapan. Belum selesai ia melahap sarapannya pagi ini, HP-nya berdering. SMS datang... Ternyata itu pesan dari salah satu temannya. Setelah selesai membalas pesan itu dia kembali berkonsentrasi pada makanannya lagi. Kemudian setelah ia meneguk segelas air putih dingin, dengan sigap Vea menyambar handuk dan mulai membayur tubuhnya dengan air yang terasa cukup dingin baginya.

Semua sudah rapi. Mulai dari atas sampai bawah. Sambil menuntun sepeda jawanya keluar garasi Vea tetap menebar senyum meski di garasi tidak ada seorang pun. Setelah sepedanya siap, maka sebagai anak yang berbakti pada orang tua sebelum berangkat tak lupa Vea pamit pada orang tuanya. Dengan riang Vea mengayuh sepedanya di jalan raya yang penuh sesak dengan sepeda motor dan mobil. Rasanya ia sedang berada dalam lintasan balap! Hahaha..

Beberapa menit kemudian Vea sampai dirumah sahabatnya, Ully. Oh.. Ternyata disana sudah ada Mifta, teman sekelasnya sekaligus teman sebangkunya apabila Vea dan Mifta masuk ke kelas XI IPS 1. Disana, Vea dan Mifta bersenda gurau sembari menunggu Ully selesai mandi. Tapi.. Mifta nampak tak enak badan karena perutnya sakit gara-gara terlalu banyak makan sambal. "Hahaha suruh siapa sarapan kok pakai sambal," tawa Vea setelah Mifta mengakhiri ceritanya. Lima menit kemudian, Nina datang dengan wajah cerianya. Tak lama kemudian, Putra, Adi, Halim, Cahya, Tita, Tama dan beberapa teman lain datang secara bersamaan. Tak disengaja! Setelah itu Halim dan Cahya sibuk membantu Ully menyiapkan semuanya. Sementara Mifta sibuk dengan Facebook-nya, Putra sibuk dengan kegilaannya, Adi sibuk dengan handphone-nya, Tita sibuk dengan musik kesukaannya dan yang lain juga sibuk dengan urusan mereka sendiri-sendiri. Dan Vea? Entahlan dia sibuk dengan apa. Dia terlihat bingung. Akhirnya dia memutuskan untuk membantu Tama membuat Es Kelapa Muda. Setelah semua siap, dan semua personil anggota FantastiX-4 berkumpul acara inti pun dimulai: bakar-bakar ayam. Nyam-nyam. Juru masak utama dipegang oleh Mita selaku pembakar ayam handal, disusul Fian pada posisi menata ayam yang belum ataupun sudah dibakar lalu ada Tita di posisi bumbu, Vea di posisi mengolesi margarin dan Putra bersama Ully di posisi kipas. Oke, semua personil sudah siap dan... Mulai.

Tak sampai dua jam, sebanyak 32 potong ayam sudah selesai dibakar. Hemmm, bau harum ayam bakar ini sampai di depan hidung semua anggota FantastiX-4. Nasi, lalapan, minuman, piring, gelas, sendok dan si ayam bakar sudah siap dan sudah tertata rapi di lantai yang sudah dialasi tikar. Akhirnya, bak burung yang baru saja mendapat mangsa, semua menyerbu apa yang ada di hadapan mereka. Setelah mendapat jatah satu per satu mereka menikmati hidangan itu dengan lahap dan nikmat.

Tak sampai satu jam mereka melahap semua hidangan itu, mereka segera mencuci piring agar tak memberatkan tuan rumah (anak yang rajin). Baru saja selesai mencuci piring, hidangan penutup pun datang. Buah. Namun buah itu tak hanya dimakan begitu saja, tapi dibuat "lotisan". Waaa, mantap! Ada sambal level 1 dan 2. Level 1 terdiri dari 11 cabai rawit dan level 2 terdiri dari 19 cabai rawit.

Setelah agak lama, Vea, Cahya dan Asa bersepeda santai keliling desa nan sejuk dan indah. Hingga tak terasa waktu berajak senja. Satu per satu teman-teman Vea pulang. Dan sekarang hanya tinggal Vea, Cahya dan Halim. Entah kenapa mereka masih betah berada dirumah Ully. Mungkin, karena disana masih banyak makanan.. Hehe.. Vea diantar pulang oleh Ully karena sudah cukup sore. Vea cukup takut pulang sendirian sore-sore seperti ini, apalagi dia naik sepeda. Dengan senang hati Ully mengantarkan sahabatnya itu pulang kerumah. Jarak antara rumah Ully dan Vea tidak terlalu jauh, mungkin sekitar 2 kilometer.

Senja kali ini terasa indah untuk Vea, selain karena dia baru saja berpesta akhir tahun dengan teman-teman kelasnya sebagai bentuk perpisahan menjelang kenaikan kelas, dia juga merasa bahagia karena bisa menghabiskan sore ini bersama sahabat karibnya sejak SMP, Ully. Mereka menghabiskan sore ini dengan tertawa bersama di teras rumah Vea.



Rabu, 26 Juni 2013

Sejarah Padi

 Pukul 10.00 WIB bel sekolah berdering, menandakan saat istirahat tiba. Beberapa saat kemudian, lorong-lorong menuju kantin sudah dipenuhi para murid yang merasa cacing-cacing dalam perut mereka keroncongan. Disalah satu sudut kantin dekat jendela, tiga cowok idola para cewek sudah berkumpul seperti biasa.
Ersen    : “Buruan Sam, pesenin gw nasi goreng”
Denis    : “Sekalian pesenin gw soto ya”
Sam     : “Kalian pikir, saya pembantu kalian ya?!”
Ersen    : “Gak usah banyak ngomong deh, gek cepet kono
Sam     : “Bawel”
            Akhirnya Sam berlalu dengan suasana hati yang dongkol. Beberapa saat kemudian, Sam kembali kemeja teman-temannya dengan membawa setumpuk makanan pesanan teman-temannya dan juga makanannya sendiri.
Sam     : “Nih pesenan kalian”
Ersen    : “Thank’s ya Sam”
Denis     : “Gw jadi inget sesuatu pas gw liat nasi goreng loe Er”
Ersen    : “Kenapa sama nasi goreng gw?”
Denis     : “Pernah gak sih kalian tu mikir, nasi yang kalian makan tuh sejarahnya gimana?”
Samuel : “Saya pernah baca buku. Kata buku itu sih, beras berasal dari bulir-bulir benih padi dan padi itu termasuk rumput-rumputan”
Ersen    : “Kalo itu, aku yo ngerti
Denis     : “O.. gw inget! Denger-denger nih ya,menurut penelitian nenek moyang, padi tu dari delta sungai-sungai besar di Asia. Tapi gw lupa daerahnya. Hehe..”
Ersen    : “Daerah Gangga, Yangtze, Tigris sama Eufrat kan maksud loe?”
Samuel : “Nah, itu kamu tau Er. Kirain Cuma bisa makan aja. Haha..”
Ersen    : “Woo.. dasar Sam ki, waton omong
Denis     : “Udah-udah gak usah pada crewet. Terus tu ya, sebelum penelitian sama dihasilkan jenis-jenis padi yang baru, masa panennya tu satu tahun gitu katanya”
Samuel : “Kok kamu tahu Nis?”
Denis     : “Iyalah, kakekku yang di Klaten kan petani”
Ersen    : “Gw juga pernah baca di internet, tinggi padi tu sekitar 61-183 cm. Kalok bentuk batanya itu silinder panjang. Daunnya kayak jarum terus benihnya bisa dimakan”
Samuel : “Ciee.. Ersen pinter. Udah cocok jadi Pak Tani. Haha..”
Ersen    : “Dari dulu kale’. Emang gw kayak Denis yang gak pinter-pinter? Haha..”
Denis     : “Sialan loe. Udah yuk, balik sekarang. Gw belom ngerjain PR Kimia nih”
Samuel : “Huu.. Dasar anak malas!”
            Setelah itu, mereka berjalan menuju kelas dengan tawa khas yang menghiasi wajah cerah mereka.

Memang Bukan

Aku memang bukan orang yang pandai dalam merangkai sajak
Aku memang bukan orang yang pandai dalam mengalunkan nada
Aku memang bukan orang yang pandai dalam mengajarkanmu suatu hal yang besar
Aku memang bukan orang yang pandai dalam melukiskan senyum di wajahmu
Aku memang bukan orang yang pandai dalam mengobati rasa sakitmu
Tapi mungkin aku bisa tuk lukiskan kenangan dalam hatimu :)

Sahabat

Aku memang bukan bulan, bukan lilin ataupun bintang yang bisa menerangi gelapmu..
Aku memang bukan apa-apa dari bagian hidupmu, tapi izinkan aku terbang bersamamu dengan sayap-sayap patahku..
Ragaku memang tak selalu menjagamu, tapi izinkan hatiku tuk selalu bersamamu..
Bersamamu ku bahagia, aku merasa ada..
Tanpamu aku merasa berada dalam gurun sahara ..tanpa siapapun ! Sepi, sendiri dan sunyi
Bersamamu dapatku tempuh malam dingin, dapat ku lewati perihnya hati tersakiti karena "cinta", dapat ku pahami arti hidup ini..
Terasa ada walau tiada..
"sahabat"

Akhir Kisahku

Pernah ku tulis suatu kisah tentang kita saat kita bersama ..dulu
Namun kini kisah itu hanyalah tinggal deretan kata tak bermakna..
Dan kian terhapus karena tetesan air mata...
Mungkin memang hanya sampai disini cerita tentang kita...
Dan kini kau ukir kisah yang baru bersama dia...
Biarkan aku menyimpan ini sebagai bukti, bahwa aku sangat menyanyangimu
melebihi apapun itu..
Sepenggal kalimat dariku, selamat tinggal kasih aku pergi untuk tak kembali..

Sepucuk Rindu Dariku :)

Memori itu membawaku ke masa lalu
Bernostalgia bersama sejuta kenangan
Kenangan yang memaksaku untuk kembali mengingatmu
Mengingat segala tentangmu
Dan rasa ini kembali membuatku terpaku
Diam sejenak, mencoba menelaah
Dan akirnya tangis yang mengungkap semua
Semua yang ada dalam ingatan
Kemudian, ingatan itu menjadikanmu ada kembali 
dalam bayangku
Mengalun dengan lirih desah napasku
Napas yang terengah-engah karena
habis beradu dengan emosi jiwa ini
Tangis ini semakin menjadi, urat nadi ini semakin
nyata tergambar, melukiskan indah namamu
Setelah hening memecah malam, dan bulan bertemu
dengan gelap malam, lelah ini menghampiri
Pikirku kemudian melambung diterpa angin malam,
semoga terbang dan sampai di tempat tujuan,
di hatimu,
Agar engkau tahu, aku merindukanmu :')



Payung ini, Untukmu

Kemarin hari Minggu. Mendung. Seperti minggu-minggu yang lalu aku dan dia pasti menghabiskan hari minggu kami dengan hang out bersama. Indah rasanya. Dia Tama. Pacarku. Sudah hampir tiga tahun ku lewati hari bersamanya. Dirumah, disekolah dimanapun hampir selalu bersama. Sungguh hari Minggu yang indah. Tawa bersama, bergurau dalam canda dihiasi rintikan hujan yang menerpa payung biruku.

Pagi ini mendung. Hari Senin. Seperti biasa, aku datang paling awal dari teman-teman yang lain. Menunggu Tama yang biasanya datang pukul 06.15. Namun hari ini, sudah hampir setengah tujuh dia belum menampakkan diri. Bel tanda dimulainya pelajaran sudah berdering. Hatiku semakin kalut tak karuan. Ku lewati setiap jam disekolah dengan perasaan gundah. Tak tenang. Gundah, kalut, khawatir dan galau. Perasaan itu menghantui pikiranku hari ini. Sampai bel pulang sekolah terdengar, Tama tak juga menampakkan diri. Aku menangis.
Rintikan hujan dan sepoi angin menghiasi perjalananku menuju rumah Tama. Trotoar yang biasanya ramai dipenuhi pejalan kaki, namun hari ini sepi. Mungkin orang-orang takut dengan hujan. Namun bagiku, hujan merupakan kenangan. Aku membawa payung biruku, namun tak ku pakai karena aku berharap hujan bisa menghapus rasa gundahku. Hampir satu jam aku berjalan di bawah rintikan hujan yang semakin deras ku rasakan. Aku sampai di depan rumah Tama.

Suasana hening seketika, saat aku masuk dengan basah kuyup. "Ada apa ini? Mana Tama?" tanyaku dalam hati. Tak terasa aku menangis. "Tama sudah tenang disana, Eni", kata sesosok wanita paruh baya yang ternyata adalah ibu Tama. Aku mengetahui maksud dari kata itu. Tama meninggal. Aku membeku dalam bisu, terpaku dalam keheningan jiwaku.

Hujan telah reda. Saatnya menuju rumah baru Tama. Kuburan. Sepanjang perjalanan menuju rumah baru Tama aku mencoba ikhlas. Namun tak bisa. Taburan bunga dan tanah berwarna coklat kemerahan menyelimuti Tama. Batu nisan bertuliskan "Tama Andrean" berdiri tegak berwarna putih. Payung biruku, aku letakkan diatas gundukan tanah itu. "Biar Tama nggak keujanan" ucapku lirih.

Mencoba merelakanmu, Tama. Ku harap payung biruku bisa melindungimu dari hujan meski sekarang sudah tak ada lagi yang menjagaku. Do'aku selalu untukmu, Tama.
 
Langit Biru Blogger Template by Ipietoon Blogger Template