Selasa, 10 Desember 2013

Untuk Saya


Beneran deh, ya. Baru kali ini saya merasakan deg-degan yang luar biasa. Ditambah lagi, deg-degan ini menyerang saya ketika saya bangun tidur. Bayangkan! Selama (kurang lebih) 3 jam saya melewati masa tidur dengan tenangnya tiba-tiba bangun tidur diserang rasa deg-degan yang luar biasa parahnya. Rasanya itu kayak pas kita lagi enak-enak tidur di musim dingin pakai selimut yang tebel terus tiba-tiba disiran pakai 10 kg balok es! Gigit jari. Deg-degan. Panik. Yang jelas kaget.
Jadi gini...
Tadi siang pulang sekolah rumah yang saya tinggali selama kurang lebih 17 tahun ini tampak sepi. Ibu saya ke Pemalang -nikahan sodara-, Kakak ke-2 saya pergi dari tadi pagi -gak tau kemana dan ngapain aja-, Kakak pertama saya nganter Ibu ke Kulon Progo -transit dulu di sana- Otomatis yang ada dipikiran saya cuma Bapak saya aja kan yang ada di rumah? Ternyata salah!
Setelah saya memarkir motor hitam saya di teras samping rumah lalu saya masuk ke dalam dan meletakkan tas di atas kursi, saya lihat Kakak pertama saya tidur dengan plosnya. Bapak saya tampaknya juga lagi mau tidurr siang (?) Saat itu juga saya mbatin, "lha kok malah do turu?" (lho kok pada tidur? Jadi sepi ini).
Tapi sayanya, siang tadi saya juga diserang kantuk berat. Mau nggak mau saya juga ikut terlelap, kan? Tahu-tahu waktu saya bangun jam dinding sudah menunjukkan pukul 16.45. Saya langsung bergegas ke kamar mandi. Setelah itu saya keluar ke teras samping rumah untuk mengambil handuk. Saat itu juga rasanya kaki saya terasa berat untuk menopang berat badan saya sendiri. Saya panik banget. Lebih tepatnya kaget. Saya langsung berlari ke garasi. Tengok sana tengok sini. Motor saya nggak ada! Di garasi nggak ada, di teras samping juga nggak ada! Terus motor saya dimana? *lagunya Ayu Ting Ting-alamat palsu- berkumandang. Dimana dimana dimana.
Sejurus kemudian saya lari nyamperin Bapak yang lagi tidur dengan nyenyaknya. Tanpa basa basi saya langsung bilang, "Pak, motor e ra eneng!" (Pak, motornya nggak ada). Orang yang biasanya bangun tidur harus kucek-kucek mata dulu, harus ongkang-ongkang kaki dulu, harus ngumpulin nyawa dulu, kali ini Bapak saya nggak pakai ritual kayak gitu. Beliau langsung cek motor saya di teras samping dan garasi. Saat saya dan bapak saya lagi sibuk, Kakak pertama saya yang tadi lagi tidur dengan polosnya akhirnya ikut bangun dan mbingungi.
Kami -saya, Bapak dan Kakak- bolak balik teras-garasi untuk memastikan bahwa motor saya itu benar-benar tidak ada. Nihil. Wajah saya langsung pucat. Bibir saya gemetar. Pikiran saya kacau. Seketika itu juga Kakak pertama saya menyuruh saya untuk menghubungi Kakak ke-2 saya. Tapi saya pikir Kakak ke-2 saya kan belum pulang. Ngapain juga saya menghubungi dia? Tapi pada akhirnya, saya tetap menghubungi dia juga. Tepat saat itu, saya mbatin "Ya Allah, semoga bener dibawa Mas Pras -namanya-"
Dan kalian tahu gimana jawaban Mas Pras?
Setelah mendengar jawaban itu, saya tetap ngerasa lemes. Untung aja Kakak pertama saya masih bisa berpikir jernih. Kalau nggak ada dia kayaknya saya bisa panik to the mas dan nggak akan kepikiran buat menghubungi Mas Pras. Apalagi Bapak saya, paling cuma uring-uringan terus.
Ini bagian yang nggak saya suka.
Saya Ketiban sial.
Ternyata motor saya dibawa mas Pras. IYA. DIBAWA DIA!!! Menyebalkan!
Di telpon tadi saya nggak pakai basa basi dan langsung meluncurkan pertanyaan "motor e tok gowo?" (motonya kamu bawa?). Di sebrang sana suara tawa Mas Pras terdengar renyah. Jelas menertawakan saya!
Sial. Sial. Sial.
Rasanya itu kayak apa, ya? Ya kayak gitulah pokonya. Sebel
Ini pembelajaran buat saya. Lain kali kalau pulang sekolah motonya dikunci atau lebih baiknya dimasukin aja ke garasi.
Itu tadi pesan bapak saya. Saya cuma manggut-manggut aja.
Diam.

Tampilan Baru, Semangat Baru !


Halooo teman teman...
Kembali lagi bersama saya, Leny Novitasari yang masih tetap bercita-cita menjadi seorang Psikolog -doain ya manteman.. hehe-
Pagi tadi blog saya yang masih tetap unyu ini penampilannya dirubah sama kawan saya yang berinisial Rifka atau Tita. Atau malah keduanya? Entahlah. Yang pasti dia itu satu orang dengan banyak nama.
Tadi saya minta minta tolong sama dia buat ngerubah penampilan blog saya. Abisnya penampilan blog saya nggak banget sih -_-
Untung kawan saya yang baik hati ini mau bantuin. Makacih ya Titaaa :)))
Dengan tampilan yang baru ini -fresh from the oven- saya sangat-sangat berharap saya bisa produktif lagi dalam hal tulis menulis. Saya mau meramaikan kembali blog ini yang sudah beberapa bulan terakhir saya tinggalin begitu aja. Kasihan kan dia (?) *pukpuk blog-nya Leny
Sebelumnya saya mau minta maaf dulu nih, kalau tulisan saya masih kayak tulisan anak SD. Kan masih dalam taraf belajar *pembelaan diri*
Saya juga berharap semangat menulis saya akan selalu ada dan tidak akan pernah luntur. AMN. Walaupun harus saya akui kalau saya kadang-kadang malas buat nulis. Hehe jadi malu.
Banyak sekali ya harapan saya? Gakpapalah. Blog juga blog saya kok :p
Semoga ya kawan..

Kamis, 27 Juni 2013

Pesta Akhir Tahun


          Pagi ini dia bangun pukul 07.30. Memang sengaja. Kenapa? Karena hari ini ada "pesta besar" dalam beberapa bulan terakhir dimasa kelas sepuluhnya. Walaupun beberapa hari kedepan ia juga akan mendapat makan gratis lagi. Namun kali ini berbeda. Hari ini ada pesta makan-makan bersama teman-temannya. Hemm... nyam-nyam. Walaupun menu yang disajikan cukup sederhana, tapi tak menyurutkan semangatnya pagi ini. Setelah selesai merapikan tempat tidurnya ia segera keluar kamar untuk sarapan. Belum selesai ia melahap sarapannya pagi ini, HP-nya berdering. SMS datang... Ternyata itu pesan dari salah satu temannya. Setelah selesai membalas pesan itu dia kembali berkonsentrasi pada makanannya lagi. Kemudian setelah ia meneguk segelas air putih dingin, dengan sigap Vea menyambar handuk dan mulai membayur tubuhnya dengan air yang terasa cukup dingin baginya.

Semua sudah rapi. Mulai dari atas sampai bawah. Sambil menuntun sepeda jawanya keluar garasi Vea tetap menebar senyum meski di garasi tidak ada seorang pun. Setelah sepedanya siap, maka sebagai anak yang berbakti pada orang tua sebelum berangkat tak lupa Vea pamit pada orang tuanya. Dengan riang Vea mengayuh sepedanya di jalan raya yang penuh sesak dengan sepeda motor dan mobil. Rasanya ia sedang berada dalam lintasan balap! Hahaha..

Beberapa menit kemudian Vea sampai dirumah sahabatnya, Ully. Oh.. Ternyata disana sudah ada Mifta, teman sekelasnya sekaligus teman sebangkunya apabila Vea dan Mifta masuk ke kelas XI IPS 1. Disana, Vea dan Mifta bersenda gurau sembari menunggu Ully selesai mandi. Tapi.. Mifta nampak tak enak badan karena perutnya sakit gara-gara terlalu banyak makan sambal. "Hahaha suruh siapa sarapan kok pakai sambal," tawa Vea setelah Mifta mengakhiri ceritanya. Lima menit kemudian, Nina datang dengan wajah cerianya. Tak lama kemudian, Putra, Adi, Halim, Cahya, Tita, Tama dan beberapa teman lain datang secara bersamaan. Tak disengaja! Setelah itu Halim dan Cahya sibuk membantu Ully menyiapkan semuanya. Sementara Mifta sibuk dengan Facebook-nya, Putra sibuk dengan kegilaannya, Adi sibuk dengan handphone-nya, Tita sibuk dengan musik kesukaannya dan yang lain juga sibuk dengan urusan mereka sendiri-sendiri. Dan Vea? Entahlan dia sibuk dengan apa. Dia terlihat bingung. Akhirnya dia memutuskan untuk membantu Tama membuat Es Kelapa Muda. Setelah semua siap, dan semua personil anggota FantastiX-4 berkumpul acara inti pun dimulai: bakar-bakar ayam. Nyam-nyam. Juru masak utama dipegang oleh Mita selaku pembakar ayam handal, disusul Fian pada posisi menata ayam yang belum ataupun sudah dibakar lalu ada Tita di posisi bumbu, Vea di posisi mengolesi margarin dan Putra bersama Ully di posisi kipas. Oke, semua personil sudah siap dan... Mulai.

Tak sampai dua jam, sebanyak 32 potong ayam sudah selesai dibakar. Hemmm, bau harum ayam bakar ini sampai di depan hidung semua anggota FantastiX-4. Nasi, lalapan, minuman, piring, gelas, sendok dan si ayam bakar sudah siap dan sudah tertata rapi di lantai yang sudah dialasi tikar. Akhirnya, bak burung yang baru saja mendapat mangsa, semua menyerbu apa yang ada di hadapan mereka. Setelah mendapat jatah satu per satu mereka menikmati hidangan itu dengan lahap dan nikmat.

Tak sampai satu jam mereka melahap semua hidangan itu, mereka segera mencuci piring agar tak memberatkan tuan rumah (anak yang rajin). Baru saja selesai mencuci piring, hidangan penutup pun datang. Buah. Namun buah itu tak hanya dimakan begitu saja, tapi dibuat "lotisan". Waaa, mantap! Ada sambal level 1 dan 2. Level 1 terdiri dari 11 cabai rawit dan level 2 terdiri dari 19 cabai rawit.

Setelah agak lama, Vea, Cahya dan Asa bersepeda santai keliling desa nan sejuk dan indah. Hingga tak terasa waktu berajak senja. Satu per satu teman-teman Vea pulang. Dan sekarang hanya tinggal Vea, Cahya dan Halim. Entah kenapa mereka masih betah berada dirumah Ully. Mungkin, karena disana masih banyak makanan.. Hehe.. Vea diantar pulang oleh Ully karena sudah cukup sore. Vea cukup takut pulang sendirian sore-sore seperti ini, apalagi dia naik sepeda. Dengan senang hati Ully mengantarkan sahabatnya itu pulang kerumah. Jarak antara rumah Ully dan Vea tidak terlalu jauh, mungkin sekitar 2 kilometer.

Senja kali ini terasa indah untuk Vea, selain karena dia baru saja berpesta akhir tahun dengan teman-teman kelasnya sebagai bentuk perpisahan menjelang kenaikan kelas, dia juga merasa bahagia karena bisa menghabiskan sore ini bersama sahabat karibnya sejak SMP, Ully. Mereka menghabiskan sore ini dengan tertawa bersama di teras rumah Vea.



Rabu, 26 Juni 2013

Sejarah Padi

 Pukul 10.00 WIB bel sekolah berdering, menandakan saat istirahat tiba. Beberapa saat kemudian, lorong-lorong menuju kantin sudah dipenuhi para murid yang merasa cacing-cacing dalam perut mereka keroncongan. Disalah satu sudut kantin dekat jendela, tiga cowok idola para cewek sudah berkumpul seperti biasa.
Ersen    : “Buruan Sam, pesenin gw nasi goreng”
Denis    : “Sekalian pesenin gw soto ya”
Sam     : “Kalian pikir, saya pembantu kalian ya?!”
Ersen    : “Gak usah banyak ngomong deh, gek cepet kono
Sam     : “Bawel”
            Akhirnya Sam berlalu dengan suasana hati yang dongkol. Beberapa saat kemudian, Sam kembali kemeja teman-temannya dengan membawa setumpuk makanan pesanan teman-temannya dan juga makanannya sendiri.
Sam     : “Nih pesenan kalian”
Ersen    : “Thank’s ya Sam”
Denis     : “Gw jadi inget sesuatu pas gw liat nasi goreng loe Er”
Ersen    : “Kenapa sama nasi goreng gw?”
Denis     : “Pernah gak sih kalian tu mikir, nasi yang kalian makan tuh sejarahnya gimana?”
Samuel : “Saya pernah baca buku. Kata buku itu sih, beras berasal dari bulir-bulir benih padi dan padi itu termasuk rumput-rumputan”
Ersen    : “Kalo itu, aku yo ngerti
Denis     : “O.. gw inget! Denger-denger nih ya,menurut penelitian nenek moyang, padi tu dari delta sungai-sungai besar di Asia. Tapi gw lupa daerahnya. Hehe..”
Ersen    : “Daerah Gangga, Yangtze, Tigris sama Eufrat kan maksud loe?”
Samuel : “Nah, itu kamu tau Er. Kirain Cuma bisa makan aja. Haha..”
Ersen    : “Woo.. dasar Sam ki, waton omong
Denis     : “Udah-udah gak usah pada crewet. Terus tu ya, sebelum penelitian sama dihasilkan jenis-jenis padi yang baru, masa panennya tu satu tahun gitu katanya”
Samuel : “Kok kamu tahu Nis?”
Denis     : “Iyalah, kakekku yang di Klaten kan petani”
Ersen    : “Gw juga pernah baca di internet, tinggi padi tu sekitar 61-183 cm. Kalok bentuk batanya itu silinder panjang. Daunnya kayak jarum terus benihnya bisa dimakan”
Samuel : “Ciee.. Ersen pinter. Udah cocok jadi Pak Tani. Haha..”
Ersen    : “Dari dulu kale’. Emang gw kayak Denis yang gak pinter-pinter? Haha..”
Denis     : “Sialan loe. Udah yuk, balik sekarang. Gw belom ngerjain PR Kimia nih”
Samuel : “Huu.. Dasar anak malas!”
            Setelah itu, mereka berjalan menuju kelas dengan tawa khas yang menghiasi wajah cerah mereka.

Memang Bukan

Aku memang bukan orang yang pandai dalam merangkai sajak
Aku memang bukan orang yang pandai dalam mengalunkan nada
Aku memang bukan orang yang pandai dalam mengajarkanmu suatu hal yang besar
Aku memang bukan orang yang pandai dalam melukiskan senyum di wajahmu
Aku memang bukan orang yang pandai dalam mengobati rasa sakitmu
Tapi mungkin aku bisa tuk lukiskan kenangan dalam hatimu :)

Sahabat

Aku memang bukan bulan, bukan lilin ataupun bintang yang bisa menerangi gelapmu..
Aku memang bukan apa-apa dari bagian hidupmu, tapi izinkan aku terbang bersamamu dengan sayap-sayap patahku..
Ragaku memang tak selalu menjagamu, tapi izinkan hatiku tuk selalu bersamamu..
Bersamamu ku bahagia, aku merasa ada..
Tanpamu aku merasa berada dalam gurun sahara ..tanpa siapapun ! Sepi, sendiri dan sunyi
Bersamamu dapatku tempuh malam dingin, dapat ku lewati perihnya hati tersakiti karena "cinta", dapat ku pahami arti hidup ini..
Terasa ada walau tiada..
"sahabat"

Akhir Kisahku

Pernah ku tulis suatu kisah tentang kita saat kita bersama ..dulu
Namun kini kisah itu hanyalah tinggal deretan kata tak bermakna..
Dan kian terhapus karena tetesan air mata...
Mungkin memang hanya sampai disini cerita tentang kita...
Dan kini kau ukir kisah yang baru bersama dia...
Biarkan aku menyimpan ini sebagai bukti, bahwa aku sangat menyanyangimu
melebihi apapun itu..
Sepenggal kalimat dariku, selamat tinggal kasih aku pergi untuk tak kembali..

 
Langit Biru Blogger Template by Ipietoon Blogger Template