Senin, 05 Mei 2014

Senyummu

Mungkin anganku terlalu tinggi untuk membayangkanmu
Kau bagaikan angin dalam hidupku
Ada, tapi tak dapat aku menggenggammu
Hadirmu membawa kesejukan
Membuat tandan ini dingin gemetar
Seperti gempa yang mengguncang hatiku
Saat mata kita bertemu
Kau tarik bibirmu ke kanan dan kiri
Hingga terbentuk senyum menawan
Sederhana kan?
Ya, sesederhana itulah kau mampu membuatku terpaku
Hanya diam, tapi kupu-kupu dalam perutku
bak mendapat banyak madu!

2013

Kamis, 24 April 2014

Jauh

Ketika hati ini merapuh
Seolah aku tak bisa mengucap apa-apa
Hadirmu begitu nyata
Namun aku tau, itu hanya byang-bayang semu
Kucoba tuk berlari menggapai itu
Sayang, kau telah menjauh dariku...

24 April 2014

Kamu

Aku lumpuh saat cinta di hadapku
Langkah ini seolah terhenti saat cinta berjalan mengikutiku
Bibir ini terasa sulit untuk sekedar menyingungkan segaris senyum ketika cinta menampakkan dirinya
Kaki ini terasa berat melangkah saat aku tau bahwa cinta itu kamu
Dan aku mati rasa ketika cinta datang menyapa...

Yogyakarta, 2014

Senin, 21 April 2014

Jangan Salahkan Kami!

Kau tau negeri kepulauan yang terbesar di dunia?
Negeri yang mahsyur permai dikata orang itu?
Ya. Itulah tanahku. Tanah kelahiranku
Indonesia
Biarpun banyak perpecahan dalam tubuhnya
Biarpun banyak problematika menerjang,
bak badai ganas di lautan luas
Biarpun tuan dan puan banyak merampas hak kami,
para kaum bawahan
Biarpun para pejabat berebut kekuasaan
dan menjerumuskan diri mereka dalam sebuah dunia kelam
bernama korupsi
Biarpun poros roda politik uang selalu berlangsung
Kami tetap disini, berdiri di tanah yang telah melahirkan kami,
para anak manusia yang punya nama
Bukan hanya sekumpulan tulang belulang tak bermakna
Kamilah para penerus bangsa
Yang punya semangat juang tinggi untuk mempersatukan Indonesia
Biarpun di luar sana banyak yang mencaci maki kami,
para kaula muda Indonesia
Tapi kami tetap teguh membangun bumi pertiwi
Engkaulah bumi pertiwiku, Indonesiaku
Yang kaya akan keindahan duniawi
Hey kalian para manusia di negeri sebrang
Jangan anggap kami lemah
Jangan pikir kami tak punya apa-apa
Kami ini bangsa yang besar!
Sumber daya kami takkan habis
Air bagaikan lautan yang tak pernah kering
Udara bagaikan hembusan angin yang selalu menyapa
Hutan bagaikan rimbunnya ribuan rumah di Jakarta
Tapi, bila kalian, para manusia di negeri sebrang
Melihat bumi ini porak poranda
Jangan salahkan kami!
Kami tak tau menau soal itu
Kami berbeda dengan para perampok negeri sendiri itu
Betapa kejamnya mereka, merampas apa yang kami punya!
Gugusan pulau terbentang dari Sabang sampai Merauke
Mencerminkan satu persatuan
Gugusan awan di langit luas
Tercermin senyum untuk Indonesia mendatang
Kami, para generasi penerus bangsa
Akan berjuang dan bersatu untuk Indonesia
Itu janji kami padamu, para pejuang kemerdekaan
Yang gugur di medan perang

Yogyakarta, 19 April 2014

Selasa, 14 Januari 2014

Hujan

Tetesan hujan mengiringi langkahku
Menghapus asa tentangmu
Saat kau tak lagi menyebut kita
Rentetan kata seolah tak lagi bermakna
Aku diam dalam hujan
Tersenyum dalam kebisuan

Selasa, 10 Desember 2013

Untuk Saya


Beneran deh, ya. Baru kali ini saya merasakan deg-degan yang luar biasa. Ditambah lagi, deg-degan ini menyerang saya ketika saya bangun tidur. Bayangkan! Selama (kurang lebih) 3 jam saya melewati masa tidur dengan tenangnya tiba-tiba bangun tidur diserang rasa deg-degan yang luar biasa parahnya. Rasanya itu kayak pas kita lagi enak-enak tidur di musim dingin pakai selimut yang tebel terus tiba-tiba disiran pakai 10 kg balok es! Gigit jari. Deg-degan. Panik. Yang jelas kaget.
Jadi gini...
Tadi siang pulang sekolah rumah yang saya tinggali selama kurang lebih 17 tahun ini tampak sepi. Ibu saya ke Pemalang -nikahan sodara-, Kakak ke-2 saya pergi dari tadi pagi -gak tau kemana dan ngapain aja-, Kakak pertama saya nganter Ibu ke Kulon Progo -transit dulu di sana- Otomatis yang ada dipikiran saya cuma Bapak saya aja kan yang ada di rumah? Ternyata salah!
Setelah saya memarkir motor hitam saya di teras samping rumah lalu saya masuk ke dalam dan meletakkan tas di atas kursi, saya lihat Kakak pertama saya tidur dengan plosnya. Bapak saya tampaknya juga lagi mau tidurr siang (?) Saat itu juga saya mbatin, "lha kok malah do turu?" (lho kok pada tidur? Jadi sepi ini).
Tapi sayanya, siang tadi saya juga diserang kantuk berat. Mau nggak mau saya juga ikut terlelap, kan? Tahu-tahu waktu saya bangun jam dinding sudah menunjukkan pukul 16.45. Saya langsung bergegas ke kamar mandi. Setelah itu saya keluar ke teras samping rumah untuk mengambil handuk. Saat itu juga rasanya kaki saya terasa berat untuk menopang berat badan saya sendiri. Saya panik banget. Lebih tepatnya kaget. Saya langsung berlari ke garasi. Tengok sana tengok sini. Motor saya nggak ada! Di garasi nggak ada, di teras samping juga nggak ada! Terus motor saya dimana? *lagunya Ayu Ting Ting-alamat palsu- berkumandang. Dimana dimana dimana.
Sejurus kemudian saya lari nyamperin Bapak yang lagi tidur dengan nyenyaknya. Tanpa basa basi saya langsung bilang, "Pak, motor e ra eneng!" (Pak, motornya nggak ada). Orang yang biasanya bangun tidur harus kucek-kucek mata dulu, harus ongkang-ongkang kaki dulu, harus ngumpulin nyawa dulu, kali ini Bapak saya nggak pakai ritual kayak gitu. Beliau langsung cek motor saya di teras samping dan garasi. Saat saya dan bapak saya lagi sibuk, Kakak pertama saya yang tadi lagi tidur dengan polosnya akhirnya ikut bangun dan mbingungi.
Kami -saya, Bapak dan Kakak- bolak balik teras-garasi untuk memastikan bahwa motor saya itu benar-benar tidak ada. Nihil. Wajah saya langsung pucat. Bibir saya gemetar. Pikiran saya kacau. Seketika itu juga Kakak pertama saya menyuruh saya untuk menghubungi Kakak ke-2 saya. Tapi saya pikir Kakak ke-2 saya kan belum pulang. Ngapain juga saya menghubungi dia? Tapi pada akhirnya, saya tetap menghubungi dia juga. Tepat saat itu, saya mbatin "Ya Allah, semoga bener dibawa Mas Pras -namanya-"
Dan kalian tahu gimana jawaban Mas Pras?
Setelah mendengar jawaban itu, saya tetap ngerasa lemes. Untung aja Kakak pertama saya masih bisa berpikir jernih. Kalau nggak ada dia kayaknya saya bisa panik to the mas dan nggak akan kepikiran buat menghubungi Mas Pras. Apalagi Bapak saya, paling cuma uring-uringan terus.
Ini bagian yang nggak saya suka.
Saya Ketiban sial.
Ternyata motor saya dibawa mas Pras. IYA. DIBAWA DIA!!! Menyebalkan!
Di telpon tadi saya nggak pakai basa basi dan langsung meluncurkan pertanyaan "motor e tok gowo?" (motonya kamu bawa?). Di sebrang sana suara tawa Mas Pras terdengar renyah. Jelas menertawakan saya!
Sial. Sial. Sial.
Rasanya itu kayak apa, ya? Ya kayak gitulah pokonya. Sebel
Ini pembelajaran buat saya. Lain kali kalau pulang sekolah motonya dikunci atau lebih baiknya dimasukin aja ke garasi.
Itu tadi pesan bapak saya. Saya cuma manggut-manggut aja.
Diam.

Tampilan Baru, Semangat Baru !


Halooo teman teman...
Kembali lagi bersama saya, Leny Novitasari yang masih tetap bercita-cita menjadi seorang Psikolog -doain ya manteman.. hehe-
Pagi tadi blog saya yang masih tetap unyu ini penampilannya dirubah sama kawan saya yang berinisial Rifka atau Tita. Atau malah keduanya? Entahlah. Yang pasti dia itu satu orang dengan banyak nama.
Tadi saya minta minta tolong sama dia buat ngerubah penampilan blog saya. Abisnya penampilan blog saya nggak banget sih -_-
Untung kawan saya yang baik hati ini mau bantuin. Makacih ya Titaaa :)))
Dengan tampilan yang baru ini -fresh from the oven- saya sangat-sangat berharap saya bisa produktif lagi dalam hal tulis menulis. Saya mau meramaikan kembali blog ini yang sudah beberapa bulan terakhir saya tinggalin begitu aja. Kasihan kan dia (?) *pukpuk blog-nya Leny
Sebelumnya saya mau minta maaf dulu nih, kalau tulisan saya masih kayak tulisan anak SD. Kan masih dalam taraf belajar *pembelaan diri*
Saya juga berharap semangat menulis saya akan selalu ada dan tidak akan pernah luntur. AMN. Walaupun harus saya akui kalau saya kadang-kadang malas buat nulis. Hehe jadi malu.
Banyak sekali ya harapan saya? Gakpapalah. Blog juga blog saya kok :p
Semoga ya kawan..
 
Langit Biru Blogger Template by Ipietoon Blogger Template